Pria Ini Dipercaya Nyemir Sepatu Delapan Walikota
BERCITA-CITA ingin menjadi guru, namun apa daya tangan tak sampai. Muhammad Nur, 53, sejak 1986 bergulat dengan sepatu pelanggannya untuk disemir hingga tampil kinclong layaknya sepatu baru.
“Saya tidak punya keahlian lain. Pendidikan saya hanya sampai di bangku SMP. Jadi nyari duitnya dari nyemir sepatu,” kata Nur, panggilan akrabnya saat ditemui tengah menyemir sepatu di kantor Walikota Jakarta Barat (Jakbar), beberapa waktu lalu.
Anak bungsu dari sembilan bersaudara ini menuturkan sebelumnya menjadi loper koran di kantor Walikota Jakbar (saat itu di Jalan S. Parman). Pelanggannya sebagian besar pegawai kantor Walikota dan sisanya dijajakan di jalanan dan lampu merah.
Keterlibatannya menjadi penyemir sepatu lantaran menggantikan temannya yang beralih profesi dengan bekerja sebagai petugas gudang. “Nyemir sepatu nggak ribet, modalnya rajin dan harus tekun agar pelanggan puas,” ujar Nur.
Pernah menikah dan mempunyai anak perempuan, namun pernikahannya kandas pada tahun 1989. Di tahun tersebut, Nur banting setir dengan berjualan mie ayam keliling di kawasan Tomang. Profesi tersebut hanya seumur jagung, karena dinilai berat. Meski Nur hanya bertugas menjajakan ke konsumen. Untuk gerobak, modal dan barang dagangan sepenuhnya ditanggung bos.
Pria penggemar mie ayam ini akhirnya kembali menekuni sebagai penyemir sepatu hingga sekarang dengan markas tetap di depan pintu masuk kantin di kantor Walikota Jakbar.
Atas jasanya membuat cantik sepatu konsumen, ia membandrol Rp5.000 per pasang. Jika tanggal muda, Nur bisa meraih rezeki sekitar Rp100.000. Sebaliknya jika tengah paceklik alias tanggal tua pegawai, pria asal Bogor ini tetap bersyukur bisa mendapatkan rezeki minimal Rp25.000 per hari.
SUPER KINCLONG
Penghasilan tersebut harus digunakan sehemat mungkin agar bisa cukup setiap bulan dan seterusnya. Karena setiap bulan Nur harus membayar biaya kontrakan Rp800.000 sudah termasuk listrik. Untuk menghemat ongkos, ia sengaja mencari petakan di sekitar kantor Walikota Jakbar.
Sejak 1986 hingga sekarang, Nur sudah ‘bersentuhan’ dengan sepatu dari delapan walikota melalui para ajudan. Juga wakil walikota, sekretaris kota, asisten dan Aparatur Sipil Negara (ASN) lainnya. Khusus menyemir sepatu walikota, dibandrol Rp20.000 per pasang tapi dijamin super kinclong.
Sehari-harinya Nur jika sakit mau tidak mau berobat ke klinik dengan biaya berkisar Rp100.000-Rp150.000. Karena beberapa kali berobat ke puskesmas, namun obatnya tidak cocok. Ia tidak memiliki Kartu Jakarta Sehat (KJS) meski tergolong tidak mampu dan ber-KTP DKI.
Dengan keterbatasan hidupnya, Nur sering galau dan gamang dalam menapaki hidup. Tak urung saking kebanyakan pikiran, membuat tubuhnya kian kurus. Terlebih manakala ia teringat sang buah hati hasil pernikahannya dengan mantan istri yang di Lampung.
“Sudah beberapa tahun saya tidak bisa mengirim uang untuk anak saya (mantan istri sudah menikah). Boro-boro bisa ngirim ke anak, untuk sehari-harinya saja sudah berat. Saya jadi sering nangis jika ingat anak,” lirihnya dengan menahan haru.
Di usianya yang tak muda lagi, Nur berharap kelak bisa mendapatkan modal untuk membuka usaha kelontong agar bisa mandiri. Ia pun berharap Pemprov DKI Jakarta maupun kementerian terkait peduli akan nasibnya sebagai warga negara bangsa ini.(rachmi/ruh)
Artikel yang berjudul “Pria Ini Dipercaya Nyemir Sepatu Delapan Walikota” ini telah terbit pertama kali di:
Post a Comment