Tunggu Giliran Operasi Tumor, Perut Aryani Kian Membesar
TANGERANG – Kondisi Aryani (22), warga Kampung Soge, RT 13/04, Desa Talok, Kresek, Kabupaten Tangerang kian mengkhawatirkan. Pemuda ini tergolek lemah karena menderita tumor di bagian perutnya.
Akibat tumor ganas yang dideritanya, perut Aryani kemudian membengkak dan tak jarang mengalami sesak nafas. Kondisi tersebut membuat Aryani tergolek lemas di rumahnya.
Awal penderitaan Aryani terjadi di tahun 2016. Saat itu dia terjatuh ketika bermain sepak bola. Aryani mengeluh sakit di perutnya, namun tak segera diobati karena minimnya biaya.
“Awalnya jatuh main bola di lapangan dekat rumah. Anaknya juga nggak terbuka sama orangtuanya,” kata Kamarudin (52), ayah Aryani, saat ditemui Poskotanews di rumahnya, Minggu (28/10/2018).
Berselang 3 bulan kemudian, perut Aryani tiba-tiba mengalami pembengkakan. Kamarudin akhirnya membawa anaknya ke Puskesmas Kresek tak jauh dari rumahnya.
Setelah diperiksa diketahui ada benjolan yang diduga tumor. Disana, Aryani langsung diberi rujukan untuk pengobatan ke RSUD Balaraja, Kabupaten Tangerang karena sebagai pemegang Kartu Indonesia Sehat.
“Tapi karena tidak ada alat, dirujuk lagi ke RS Hermina Bitung, sama juga, kemudian dirujuk ke RSUD Tangerang tapi harus menunggu,” ujar Kamarudin.
Kondisi perut yang kian membesar, Aryani akhirnya dibawa orangtuanya ke RS Bedah Manggala di Serang, Banten. Pemuda 22 tahun ini kemudian menjalani operasi pengangkatan tumor.
“Pakai biaya sendiri, operasinya saja habis Rp 17 juta, belum biaya selama menginap, total seluruhnya habis Rp 20 juta. Uang itu boleh minjam sana-sini,” ungkap buruh tani ini.
Pasca dioperasi, kondisi Aryani perlahan membaik. Tapi tak lama kemudian, kondisinya kembali memburuk. Benjolan di perut Aryani kembali muncul.
Karena tak ada biaya, Aryani hanya dirawat di rumah neneknya di Bekasi, Jawa Barat, setahun terakhir. Sejak saat itu perut Aryani terus membesar.
“Saya terus ikhtiar untuk kesembuhan Aryani. Anak saya bawa ke Puskesmas Babelan lalu dirujuk ke RS Tiara hingga akhirnya ke RS Persahabatan Poliklinik Bedah Digestif pada 30 Juli 2018,” ujar Kamarudin.
Setelah dilakukan pemeriksaan secara intensif, dokter memutuskan akan melakukan operasi terhadap Aryani pada bulan 18 Oktober 2018. Namun hingga kini Aryani belum juga dipanggil untuk menjalani operasi pengangkatan tumor.
“Dokter bilang karena banyak pasien, maka diminta menunggu panggilan untuk operasi. Makanya Aryani sekarang dirawat di rumah,” kata Kamarudin.
Menurut Kamarudin, dia dan anaknya sudah bolak-balik ke rumah sakit di Jakarta Timur tersebut sejak pertengahan tahun 2018. Selama ini Kamarudin mengandalkan sumbangan untuk membawa Aryani ke rumah sakit tersebut.
Sementara itu, Ketua umum LSM Indonesia sejahtera M Josan, geram atas kejadian yang dialami Arayani yang seharusnya sudah dioperasi namun tak kunjung dilakukan.
“Iya saya sudah kesana, katanya nunggu giliran operasi namun sudah 3 bulan operasi tersebut tak kunjung dilakukan,” kata Josan.
Josan menambahkan, pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan harusnya membuat rumah sakit pusat nasional khusus bedah. Dengan begitu tidak ada lagi pasien miskin yang menunggu giliran operasi, seperti Aryani ini.
“Sedangkan untuk pemerintah daerah agar menganggarkan dana transportasi berobat ke rumah sakit yang jauh dari rumah. Kasian keluarga ini, jarak Kresek-RS Persahabatan cukup jauh dan biayanya tak sedikit,” pungkasnya. (imam/tri)
Artikel yang berjudul “Tunggu Giliran Operasi Tumor, Perut Aryani Kian Membesar” ini telah terbit pertama kali di:
Post a Comment