Iptu Sugiono, Meminimalisir Kriminalitas dengan Ajak Preman Ngopi Bareng
MENJABAT Kasubag Humas Polres Tangerang Selatan membuat bangga sekaligus tantangan bagi Iptu Sugiono. Sebelumnya, dia banyak bertugas melayani masyarakat dan menghadapi preman, kini bertambah menjadi mitra awak media.
“Bangga menjadi personil humas. Mengapa? Karena di humas, bisa membangun dan menjaga jaringan kerja yang tak dapat di pendidikan formal,” ucap Sugiono.
Tantangannya? Bukan hanya sekedar corong kepolisian, tapi juga harus dekat dengan media, kelola media sosial, gunakan IMM, angkat keberhasilan, tekan berita negatif, cepat netralisir berita negatif dan mengelola tranding topik. “Itu tantangan ke depan yang semakin kompleks, sebagaimana diperintahkan Kadiv Humas Polri,” ujar dia.
Di zaman digital sekarang ini, informasi begitu cepat berkembang dan menyebar. Sesuatu yang viral di luar negeri, dengan cepat akan menjadi viral di daerah kita, begitu juga sebaliknya. “Sebab itu kami harus mampu memanfaatkan perkembangan era digital ini. Contoh, kepopuleran Ustadz Abdul Somad di dunia jagat maya merupakan bentuk kecerdasannya memanfaatkan teknologi informasi,” imbuhnya.
KAPOSPOL
Pengalaman menjadi insan Tribrata 25 tahun memudahkannya bergaul dengan awak media. Dia tak kikuk saat menjawab atau memaparkan setiap peristiwa, keberhasilan, atau kegiatan di jajaran Polres Tangsel. Pada 2001-2005, Sugiono dipercaya menjadi Kapospol Blok M. Kala itu, kawasan ini salah satu pusat perbelanjaan termegah dan teramai di Jakarta.
Berbagai masalah pun bermunculan menjadi ‘makanan’ sehari-hari. Mulai copet yang berkeliaran di kawasan terminal, merebaknya peredaran narkoba, tawuran antarpelajar atau antarpreman hingga kesemrautan pedagang Kaki-5. “Setiap pekan ada saja tindak kriminal, sehingga saya nyaris setiap malam tidur di Pospol,” kenang kakek empat cucu ini.
Saat itu, Sugeg berpangkat Aiptu. Nyaris 24 jam waktunya dihabiskan memantau kawasan pusat bisnis sekaligus pusat nongkrong kaum remaja. Belum lagi keluar masuknya ratusan angkutan umum seperti bus, metromini dan angkot di Terminal Blok M. Padatnya lalau lalang penumpang di terminal ini mengundang berbagai kelompok preman berebut rezeki. “Tak jarang bentrok pecah antara dua kelompok perman,” katanya.
NGOPI BARENG
Meminimalisir bentrokan itu, dia harus mengenal satu per satu kelompok preman itu. Seperti kelompok Anto Baret di kawasan Bulungan, kelompok ‘Arek’ di kawasan kaki-5 dan Kelompok Medan, Kelompok Ambon di terminal, “Saya sambangi mereka sambil ngopi bareng hingga pagi. Alhamdulillah pendekatan persuasif secara kontinyu perlahan-lahan membuahkan hasil, tingkat kejahatan di kawasan blok M turun drastis,” ujarnya.
Usai bertugas di kawasan ‘basah’, Sugeng dimutasi ke Polsek Kebayoran Lama. Pada 2011, dia melanjutkan Sekolah Alih Golongan. Dia pun lulus menjadi perwira dengan pangkat Ipda dan ditugaskan sebagai Kanit Provoost Polsek Pondok Aren. Hingga akhirnya dia dipercaya menjadi juru bicara Polres Tangsel.
“Selama 25 tahun lebih mengabdi sebagai angota Polri, saya menjalankan tugas seperti air menggalir. Kuncinya tak usah neko-neko. Kerja sesuai aturan. Layani dan lindungi masyarakat sebisa mungkin. Pasti Tuhan melihat dan akan membalas dengan kebaikan,” pungkasnya. (anton/iw)
Artikel yang berjudul “Iptu Sugiono, Meminimalisir Kriminalitas dengan Ajak Preman Ngopi Bareng” ini telah terbit pertama kali di:
Post a Comment