Purwanto, Bangun PLTMH untuk Tekan Biaya Produksi Pabrik Teh
PERKEBUNAN dan pabrik teh Jamus, di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur mampu membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) secara mandiri untuk mendapatkan sumber energi listrik.
Pabrik teh peninggalan Belanda, tahun 1928 seluas 478 hektar itu, semula menggunakan bahan bakar minyak (BBM) dan kayu bakar. Kini semuanya menggunakan listrik secara mandiri PLTMH.
Adalah Purwanto Wahyu Priyono, di balik keberhasilan penerapan energi baru terbarukan (EBT) dengan menggunakan PLTMH di perkebunan dan pabrik teh itu.
Purwanto memberikan inspirasi kepada semua karena di tengah energi listrik dari bahan fosil yang memiliki keterbatasan, dia justru mendorong k mengembangkan EBT.
Purwanto diberikan kepercayaan mengelola perkebunan dan pabrik teh bernama PT Candi Loka itu. Pembangunan PLTMH pada 2007 didanai warga Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) tersebut.
“Air merupakan karunia Allah SWT dan ini bisa kita manfaatkan untuk tenaga listrik,” kata Purwanto .
MASUK NOMINASI
Purwanto merupakan tokoh yang pernah masuk nominasi mendapatkan penghargaan kalpataru lingkungan hidup.
Mmbangun PLTMH, Purwanto menggunakan mata air Sumber Lanang. “Saat membangun PLTMH di sini pada 2007 lalu, kita melakukan pipanisasi dari mata air Sumber Lanang, untuk dialirkan ke PLTMH,” ucap Purwanto.
Ia menambahkan, PLTMH selain menghemat biaya produksi, masyarakat juga merasakan manfaat langsung dengan kehadiran PLTMH.
JADI RP7 JUTA
“Penghematannya terasa sangat signifikan. Bila semula biaya untuk solar Rp80 juta perbulannya, kini turun hingga Rp 7 juta saja, dan juga polusi asap berkurang, ” ucap Purwanto.
Menurut Purwanto, pembangunan PLTMH 100 ribu Watt pertama senilai Rp1,6 miliar tersebut, sudah mencukupi untuk penerangan dan beberapa proses produksi, serta masih tersisa 30 persen daya listrik.
“Akhirnya sisa 30 persen daya listrik tersebut digunakan untuk menjalankan heater (pemanas) untuk mengeringkan teh. Pemakaian heater elektrik tersebut menggantikan sebagian besar peran heater peninggalan kolonial yang menggunakan kayu bakar,” paparnya.
Kemudian setelah itu dibangun satu unit lagi dengan biaya Rp 900 juta dengan menghasilkan 100 kwh, dan setahun kemudian disusul pembangunan lagi yang melewati tanah masyarakat dengan menghasilkan 50 kwh.
Pembangunan PLTMH ini merupakan kontribusi LDII dalam mengembangkan EBT, dan LDII juga telah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Pondok Pesantren Wali Barokah, Kediri, Jawa Timur.
“Pembangunan EBT ini disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Di Perkebunan Teh Jamus kita membangun PLTMH karena kondisi alamnya yang mendukung,,” tutup Purwanto.
Ia mengatakan mata air Sumber Lanang efektif mengairi sawah mereka, juga menjadi sumber EBT yang bermanfaat bagi penerangan jalan desa. (johara/bi)
Artikel yang berjudul “Purwanto, Bangun PLTMH untuk Tekan Biaya Produksi Pabrik Teh” ini telah terbit pertama kali di:
Post a Comment