Begini Cara Bang Irul Mencintai Kali Ciliwung

KESEHARIAN hidup Komunitas Ciliwung Depok memang bertolak belakang dengan kesibukan rutin lalulalang masyarakat, di antara bising kendaraan bermotor yang memacetkan lalulintas Kota Depok.

Namun seringkali suara-suara knalpot memekakkan telinga itu mengganggu para aktivis lingkungan alam itu yang asyik menikmati gemericik aliran air Kali Ciliwung di bawah jembatan pintu masuk dari Jalan Raya Kartini, Pancoranmas, ke Grand Depok City (GDC).

“Dermaga KCD inilah markas kami,” ujar Bang Irul, panggilan akrab

Chairumansyah, 33 tahun, satu dari 30 aktivis KCD, yang menerima Pos Kota, dua hari lalu.   Ia ditemani Erwandi Supriyadi alias Elang, Raissa Nur Latifah, dan tiga sejawat lain yang asyik membuat kerajinan tangan berasal dari sampah Kali Ciliwung.

Bagi Irul, kecintaannya terhadap Kali Ciliwung muncul sewaktu melihat bersih sepanjang aliran sungai di daerah Depok. Saat itu sekitar 2009 kepindahan orangtuanya dari Jakarta ke kota yang lahir 27 April 1999, kondisi kebersihan daerah aliran sungai itu.

Diawali memberi advokasi tentang berbahayanya menempati rumah yang dibangun developer di sepanjang DAS, 2010, terkait Karakter Ciliwung dalam lima (5) tahunan yang mengalir deras sampai 50ribu kubik/detik dengan ketinggian mencapai lima (5) meteran. Mulai menggerus tanah sepanjang kali penyebab erosi dan longsor menghancurkan bangunan hingga sampah.

“Aktivitas kami pun beragam,” ujar ayah dua anak yang juga karyawan travel haji-umroh di Depok itu. Mulai membersihkan sampah-sampah, yang belakangan dijadikan barang-barang kerajinan tangan, hingga pawang satwa termasuk Bang Elang yang menawarkan gratis menaklukan hewan-hewan liar serupa ular yang masuk rumah warga.

“Di sini juga kami sering tukar pengalaman dengan komunitas pecinta seni (Kompeni), rafting, hingga praktisi teknik daur ulang sampah untuk dijadikan barang bermanfaat,” ucapnya.

HARI CILIWUNG

Sejak 11 November 2010 disepakati sebagai Hari Ciliwung, bersamaan ditemukannya hewan raksasa langka sejenis kura-kura yaitu bulus raksasa atau bahasa Latin bernama chitra chitra javanensis di DAS Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

Sejak itu pula berbagai kegiatan digelar KCD. Mulai program Bebenah Ciliwung memperingati Hari Peduli Sampah Nasional 2018, napak tilas DAS Ciliwung dari Bogor melintasi Depok hingga bermuara ke Laut Jakarta. Juga, sampah-sampah terpakai serupa bambu dan kayu dijadikan
bangku, dompet tas, botol plastik penopang bangku pendek atau jejongkok, hingga bawah kolomg jembatan itu sebagai Taman Edukasi & Konservasi Ciliwung.

“Kerajinan kami ini sesekali dibeli oleh aktivis lingkungan asing yang tahu kegiatan KCD dari media sosial. Uang hasil penjualan, plus kocek masing-masing, itulah sebagai swadaya menyediakan kopi, teh, dan makanan ringan, bagi anggota atau partisan aktif ke Dermaga KCD. (rinaldi/bi)


Artikel yang berjudul “Begini Cara Bang Irul Mencintai Kali Ciliwung” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments